ARTI PERSAHABATAN
Suasana pagi cerah di SMP MA’ARIF 04 Sendang Ayu mengiringi
sebuah kisah keempat sekawan kelas IX B
dengan karakter yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan
mereka berempat berselisih, tetapi menjadikan mereka mascot dalam persahabatan yang sejati. Kara, Afika, Eza dan Adit, itulah nama
mereka. Mereka selalu kompak dan tampak ceria setiap hari. Jadi tidak heran
jika mereka memiliki ribuan teman.
Keempat
sekawan tersebut sedang berbincang-bincang di halaman sekolah sambil menunggu
bel masuk kelas berbunyi.
Eza :
(Sambil berjalan menghampiri Afika, Adit
dan Kara yang sedang duduk)
Hey sob, sebentar lagi kita UAN nich, pastinya waktu untuk
kumpul-kumpul kita akan tersita untuk belajar. Gimana nich?
Adit :
Iya bener juga Zha, jadwal kita bakalan jungkir balik gara-gara persiapan UAN.
Kara :
Gak segitunya kalik, tergantung kita juga. Jika kita rajin menabung ilmu, maka
kita tidak akan sibuk belajar.
Adit :
Ah kamu ini Cha, mentang-mentang anak pintar jadinya sok ceramah. Huh nyebelin!
Eza :
Sudah-sudah jangan berdebat, apa yang dikatakan Kara itu ada benarnya juga.
Coba dech kalian bayangin, jika kita rajin belajar kita tidak perlu sibuk-sibuk
mikirin UAN, itung-itung siap senjata dulu sebelum perang. Enjoy aja lagi,
bener gak?
Adit :
Iya-iya Bu guru dan Bpk guru. Belum masuk kelas saja sudah dapat ceramah
dari Ibu Kara dan Bpk Eza, capek dech!
Afika :
Ha…ha…ha Adit Adit dari dulu penyakit marah kamu gak sembuh-sembuh yach. (Dengan nada ngeledek)
Kara :
Maklumlah dia itukan The Queen of Angry in the World.
Adit :
Kara ini sukanya kok ngeledekin aku terus. Kalau ngefans sama aku bilang aja
dech!
Kara :
Ih, gak banget dech.
Bel
masuk kelas berbunyi, merekapun masuk kelas. Tetapi, mereka dipulangkan lebih
awal karena para guru sedang mengadakan rapat.
(Ibu Kartini memasuki kelas IX
B)
Guru :
Assalamu’alaikum wr.wb?
Murid :
Wassalamu’alaikum wr.wb?
Guru :
Selamat pagi?
Murid :
Pagi Bu…?
Guru :
Sebelumnya Ibu minta maaf, karena sekarang para guru sedang mengadakan rapat.
Jadi, untuk hari ini kalian belajar di rumah. Tapi Ibu beri pr yaitu membuat
puisi dengan tema bebas. Dan untuk pertemuan hari sabtu yang akan datang Ibu
ingin kalian membacakannya di depan
kelas. Kalian mengerti?
Murid :
Mengerti Bu…?
Guru :
Baiklah, sekarang kalian boleh langsug pulang. Ibu akhiri Assalamu’alikum
wr.wb?
Murid :
Wssalamu’alikum wr.wb?
(Kara, Afika, Eza dan Adit berkemas-kemas)
Adit :
Mau kemana nich? Kalian mau langsung pulang apa main dulu?
Afika :
Maybe, I go home now because I’m tired. Seharian ulangan terus.
Kara :
Iya sama. Aku juga mau langsung pulang banyak tugas yang harus dikerjakan plus
jadwal les aku yang numpuk banget. Maklumlah aku itukan orang sibuk. (Seraya tertawa)
Eza :
Aduch, jadi anak kelas tiga capek banget ya. Dikit-dikit tugas, dikit-dikit
ulangan pusing!
Kara :
Namanya juga sekolah.
Hari
demi hari berganti, namun ada keganjilan dari sikap Kara. Sehingga sebelum Kara
berangkat sekolah, Afika, Adit dan Eza membicarakan sikap Kara.
(Sambil duduk di halaman
sekolah)
Adit :
Tidak terasa ya, sudah hari sabtu lagi. Padahal rasanya baru kemarin kita
diajar sama Bu Kartini.
Afika :
Iya nich! Oya Dit, apa kamu sudah membuat puisinya?
Adit :
Sudah donk.
Eza :
Friend, kalian merasa ada yang aneh tidak dengan sikapnya Kara.
Afika :
Maksud kamu?
Eza :
Maksud aku, apa kalian tidak merasa kalau akhir-akhir ini Kara sok sibuk,
jarang les lagi dan selalu pulang lebih awal?
Afika :
Emmm…. Kamu benar juga Zha!
Adit :
Bagaimana jika istirahat nanti kita tanya langsug sama Kara. Dan jika dia tidak
mau bercerita kita paksa saja?
Eza :
Aku setuju Dit!
(Karapun datang menghampiri
mereka bertiga)
Afika :
S,,,ss,,,t! Ada Kara.
(Afika, Adit dan Eza
berpura-pura sedang membaca buku)
Kara :
Eghem…? Serius banget sich bacanya.
Afika, Adit dan Eza : (Menoleh ke
Kara dan hanya tersenyum)
Bel masuk kelas terdengar kembali. Merekapun
masuk kelas untuk mengikuti pelajaran.
Kara :
Ya… sudah bel, baru saja aku sampai di sekolahan.
Adit :
Kamu sich, berangkatnya kesiangan.
(Ibu Kartini memasuki kelas IXB)
Guru :
Assalamu’alaikum wr.wb?
Murid :
Wssalamu’alaikum wr.wb?
Guru :
Bagaimana dengan tugas yg ibu berikan? Apa sudah selesai semua?
Murid :
Sudah Bu…?
Guru :
Baiklah, seperti yang Ibu bilang sebelumnya. Ibu ingin kalian membacakannya di
depan. Silahkan Adit, dibacakan hasil puisi kamu.
(Adit membacakan puisinya)
Adit :Afika
temenin aku baca di depan ya?
Afika :
Emangnya kamu gak berani baca di depan sendirian?
Adit :
Sudahlah Ayo. (Sambil menarik tangan
Afika)
(Kara dan Eza pun menanggapi
puisi yang Adit baca)
Kara & Eza : Chie…chie…? Pakek sayang-sayangan segala.
Kara :
Ih…! So…usswit nya?
Guru :
Terimakasih Adit silakan duduk kembali, sekarang giliran Kara.
Kara :
Maaf Bu, buku catatan puisi saya tidak kebawa.
Adit :
Tidak kebawa apa emang belum buat?
Kara :
Saya sudah buat Bu, karena terburu-buru jadi tidak kebawa. Saya berani sumpah
Bu?
Guru :
Ya sudah kali ini Ibu maafkan! Dan sekarang tolong kamu maju ke depan tuliskan
2 contoh peribahasa dan jelaskan maksud dari peribahasa tersebut!
Kara :
Baik Bu…(Maju ke depan kelas menulis
2 contoh peribahasa dan menjelaskan maksud dari peribahasa yang ditulis)
Guru :
Terimakasih Kara. Silahkan duduk kembali. Menurut Ibu puisi yang Adit baca tadi
sudah cukup baik, tapi masih perlu disempurnakan kembali kalimat dan cara
membacanya. Ibu rasa pelajaran hari ini sudah cukup, karena sudah waktunya
istirahat, jadi diteruskan pertemuan yang akan datang.
Murid :
Baik Bu…?
Guru :
Ibu akhiri Assalamu’alaikum wr.wb?
Murid :
Wassalamu’alaikum wr.wb?
Pada
saat waktunya istirahat tiba Afika, Adit dan Eza melaksanakan rencana yang
mereka
buat
sebelumnya.
Kara :
(melamun)
Afika :
Woy…! (Seraya mengagetkan Kara)
Kara :
Apa-apaan kalian ini, bikin aku kaget saja!
Eza : Kok kamu jadi nyalahin kita cha?
Kamu sich pagi-pagi sudah ngelamun, kena setan sekolah baru tau rasa kamu.
(Kara, Afika, Adit dan Eza tertawa bersama)
Afika :
Cha, kenapa sich akhir-akhir ini sikap kamu jadi aneh?
Kara :
Kalian bicara apa sich, aku gak ngerti?
Adit :
Ampun dech Karaku sayangku, cintaku, sahabatku jangan tulalit donk. Sudah jelas
kami ini lagi menanyakan sikap kamu yang berubah 180 derajat.
Kara :
Kalian ini ada-ada saja, aku biasa saja kalian malah bilang aku berubah segala.
Emang apa yang berubah? Aku tetap Kara yang dulu.
Eza :
Nggak Cha, kamu berubah. Karena akhir-akhir ini kita lihat kamu selalu pulang
lebih awal, kalau kita ajak kumpul-kumpul kamu ada saja alasan inilah, itulah
Hp kamu juga tidak pernah aktif?
Afika :
Kamu kenapa sich Cha? Cerita donk sama kita.
Adit :
Ayo donk Cha cerita sama kita. Atau kamu sudah tidak menganggap kita sahabat
lagi.
Kara :
Iya dech aku cerita. (Menceritakan inti
masalahnya)
Eza :
Kami butuh penjelasan yang sebenarnya Kara, bukan intinya.
Kara :
Kalian kok memaksa aku seperti itu sich!
Afika :
Kami tidak bermaksud memaksa kamu Cha? Tapi kita hanya ingin sebagai sahabat
harus saling terbuka.
Adit :
Apa perlu kita cari tahu sendiri masalah kamu yang sebenarnya?
Karena
sahabat-sahabat Kara terus-menerus membujuk Kara, akhirnya Kara mau menjelaskan
masalah yang sebenarnya.
Kara :
Baiklah, aku akan menjelaskan yang sebenarnya. Jadi, sebenarnya Hp sama
fasilitas yang ada buat aku ditarik sama orang tua aku. Karena itu aku jadi
malas belajar. Lagian tanpa itu semua rasanya hampa, untung I-pot aku gak ikut
disandra.
Afika : Menurut aku sikap orang tua kamu ada
benarnya juga Cha, jadi kamu gak perlu jadi pendiam kayak gini. Bawa enjoy saja
Cha?
Kara :
Emang bener, tapi tanpa itu semua aku jadi tambah malas belajar karena bosen
gak ada hiburan. Aku sudah cukup tertekan harus belajar terus-menerus. Orang
tua aku gak perduli sama aku lagi, mereka selalu menuntut ini, itu tapi mereka
tidak pernah memfikirkan bagaimana perasaanku? Mereka hanya tahu keinginan
mereka harus terpenuhi, tanpa berfikir kemampuan aku. Mereka egois! (Sambil
menangis)
Eza :
Sudah hapus saja air mata kamu. (Sambil
memberikan sapu tangan ke Kara)
Lebih baik
sekarang kita cari jalan keluarnya.
(Lalu semua berfikir sejenak)
Adit :
Emh… Aku punya ide, bagaimana jika kita batasi pemakaian fasilitas yang ada.? Selama
inikan setiap hari, setiap jam, setiap menit and setiap detik kita selalu
tergantung sama fasilitas yang ada.
Kara :
Benar juga kamu Dit. Aku jadi sadar, kalau kita selalu tergantung sama
fasilitas yang kita punya, kita bakalan jadi anak yang manja dan selalu
tergantung sama apa yang ada? Emang susah buat kita merubah kebiasaan yang
sudah mengakar pada diri kita. Tapi, apa kalian bisa ninggalin itu semua? Biar
aku saja yang menjalankan itu semua. Aku punya sahabat seperti kalian juga
sudah cukup buat aku. Tapi… Aku masih butuh paling tidak Hp sich.
(Mereka tertawa bersama)
Adit :
Emh… Bagaimana ya?
Afika :
Aku bisa kok Cha, Inikan ide kamu Dit, kok malah kamu yang jadi ragu sich?
Adit :
Uh, tadi aku nggak usul enak yach. Tapi aku bisa kok, demi sahabat aku
tersayang. Tapi sesekali nggak apakan?
Afika :
Iya nggak apalah. Namanya juga masih proses. Tapi jangan terlalu sering yach?
Eza :
Intinya kita setuju sama usul Adit tadi. Lagian selayaknya sahabat sejati itu
selalu ada buat sahabatnya yang lagi butuh bantuan. Kamu sedih, kita juga ikut
sedih Cha. Karena kita merasa ada yang hilang. Kita juga merasa nggak enak jika
kita having fun, tapi kamunya malah sedih, susah, campur aduk dech. Lagian kita
juga harus konsentrasi sama UAN. Bener nggak?
Kara :
Bener, kalau gitu terimakasih ya friends.
Afika, Adit, & Eza : Sama-sama kita sayang kamu
Cha.
Akhirnya mereka berempat menyepakati perjanjian
yang tadi diusulkan Adit. Mereka berharap hal ini dapat memberikan hasil yang
baik pada UAN nanti.
Hari demi hari mereka lalui penuh suka cita,
dan tidak terasa waktu UAN telah
tiba. Pada waktu hasil pengumuman UAN,
mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan mereka diterima di SMA yang mereka inginkan selama ini.
Sampai SMA pun mereka tetap bersama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar