PEMBAHASAN
RESUME
PENGERTIAN
DAN TUJUAN KONSELING
Menurut Mc. Daniel,1956 , konseling
merupakan suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada
pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih
efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungan. Menurut Berdnard & Fullmer
,1969, Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan
kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu
dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal
tersebut. Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105), konseling adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli
(disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah
(disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Tujuan
utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani menghadapi berbagai
macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung
makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap
lingkungan / orang lain menjadi percaya diri, dapat berbuat lebih banyak untuk
meningkatkan kebermaknaan hidupnya.
PENDEKATAN-PENDEKATAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
Menurut
pandangan Gerald Corey (2005), menguraikan berbagai pendekatan dalam bimbingan
dan konseling sebagai berikut.
1.
Pendekatan Psikoanalitik
Manusia
pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis fdan pengalaman-pengalaman dini.
motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang. adapun
perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada
konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.
2.
Pendekatan Eksistensial-Humanistik
Berfokus
pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri,
kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggug jawab,
kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencrian makna yang unik didalam dddunia
yang tak bermakna, ketika sendirian dan ketika berada dalam hubungan dengan
orang lain, keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan untuk mengaktualkan
diri.
3.
Pendekatan Clien-Centered
Pendekatan
ini memandang manusia secara positif bahwa manusia memiliki suatu kecenderungan
ke arah berfungsi penuh.dalam konteks hubungan konseling, mengalami perasaan
yang sebelumnya diingkari. klien mengaktualkan potensi danbergerak kearah
peningkatan kesadaran, spontanitas, kepercayaan kepada diri, dan keterarahan.
4.
Pendekatan Gestalt
Manusia
terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran perasaan serta tingkah
laku. pandangannya anati deterministik dalam arti individu dipandang memiliki
kesanggupanuntuk menyadaribagaimana pengaruh masa lampau berkaitan dengan
kesulitan sekarang.
5.
Pendekatan Analisis Transaksional
Manusia
dipandang memiliki kemampuan memilih. apa yang sebelumnya ditetapkan, bisa
ditetapkan ulang. meskipun manusia bisa menjadi korban dari putusan-putusan
bingung dan sekenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalihkan diri bisa diubah
dengan kesadaran.
6.
Pendekatan Tingkah Laku
Manusia
dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial budaya. pandangannya
deterministik, dalam arti, tingkah laku dipandang sebagai hasil belajar dan
pengondisian.
7.
Pendekatan Rasional Emotif
Manusia
dilahirkan dengan potensi untuk berpikir rasional, tetapi juga dengan
kecenderungan-kecenderungan kearah berpikir curang. mereka cenderung untuk
menjadi korban dari keyakinan-keyakinan yang rasional dan untuk
mereindoktrinasi dengan keyakinan-keyakinan yang irasional itu, tetapi
berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan, dan menekankan berpikir, menilai,
menganilisis, melakukan, dan memutuskan ulang. modelnya adalah didaktif
direktif, tetapi dilihat sebagai proses reduksi.
8.
Pendekatan Realitas
Pendekatan
realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan dan anti deterministik.
DESKRIPSI
FASE-FASE KONSELING
1. Fase Pertama
Konselor mengembangkan pertemuan
konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang
diharapkan pada klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien
berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta
memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.
2. Fase Kedua
Konselor berusaha menyakinkan dan
mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai
dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu
:
- Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidak senangannya / ketidak puasannya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga semakin tinggi pula keinginannyauntuk bekerja sama dengan konselor.
- Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.
3. Fase Ketiga
Konselor mendorong klien untuk
mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk
mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi
disini dan saat ini.
4. Fase Keempat
Setelah klien memperoleh pemahaman
dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor
mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. Pada fase ini klien
menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya
sebagai individu yang unik dan manusiawi. Klien telah memiliki kepercayaan pada
potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang, sadar dan bertanggung
jawab atas sifat otonominya, perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan
tingkah lakunya. Dalam situasi ini klien sadar dan bertanggung jawab memutuskan
untuk melepaskan diri dari konselor, dan siap untuk mengembangkan potensi
dirinya.
TEKNIK KONSELING
Hubungan
personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan
dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang
dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting
untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh.
Diam dalam
konseling bisa dijadikan sebagai suatu teknik. Dalam konseling, diam bukan
berarti tidak ada komunikasi. Komunikasi tetap ada, yaitu melalui perilaku
nonverbal. Dalam konseling, diam bisa memiliki beberapa makna yaitu:
1.
Penolakan atau kebingungan klien.
2.
Klien atau konselor telah mencapai akhir suatu ide dan ragu mengatakan apa
selanjutnya.
3.
Kebingungan yang didorong oleh kecemasan atau kebencian.
4.
Klien mengalami perasaan sakit dan tidak siap untuk berbicara.
5.
Klien mengharapkan sesuatu dari konselor.
6.
Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan.
7.
Klien baru menyadari kembali dari ekspresi emosional sebelumnya.
Tujuan teknik ini adalah pertama menanti klien yang
sedang berpikir. Kedua, sebagai protes apabila klien berbicara berbelit-belit.
Ketiga, menunjang perilaku attending dan empati sehinggaklien bebas berbicara.
Teknik
konfrontasi adalah suatu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya
inkonsistensi (tidak konsisten) antara perkataan dengan perbuatan, ide awal
dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan.Tujuan teknik ini adalah:
1.
Mendorong klien untuk mengadakan penelitian diri secara jujur.
2.
Meningkatkan potensi klien.
3.
Membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi (kondisi pertentangan antara
harapan seseorang dengan kondisi nyata dilingkungan) dai klien dengan
inkonsistensi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya.
